Opsi Rawat BPJS yang Aneh…!

Menurut saya sih aneh. Saya sudah menderita karpal sindrom cukup lama, dan memang saya cuekkin saja karena yang saya baca di internet itu bisanya disuntik “sesuatu” ke kanalnya agar jepitan ligamen terhadap syarafnya bisa mengendur. Kalau 3 kali injeksi tidak mempan baru dilakukan operasi melepaskan jepitan pada syaraf yang membuat tangan cepat lelah dan kesemutan molo.

Nah, berhubung ada BPJS oke-lah saya periksakan barangkali ada perkembangan baru disetrum atau apalah pakai teknik orthopedi atau fisioterapi bisa menyembuhkan. Di RS, dokter memberi dua opsi:

  1. Rawat Inap dua hari, dengan biaya ditanggung BPJS sepenuhnya. Yang akan dilakukan adalah cek, ronsen dan sebagainya yang intinya adalah akan diinjeksi karpalnya.
  2. Bayar sendiri 500ribu, gak perlu rawat inap. Langsung diinjeksi dan beres.

WHAT…! Kenapa tidak diinjeksi langsung saja dan biayanya dibayar BPJS, toh saya bayar iuran terus juga kok. Kalau ditotal seumur hidup saya ke depan mungkin jumlah iuran bisa melebihi apa yang akan dibayarkan BPJS untuk kesehatan saya. Tapi tak apa, enak juga seperti menabung sambil bantu yang lain kalau total pembayaran untuk saya lebih kecil dari total pembayaran saya. Kalau sebaliknya… untunglah aku… hihihihi

WHAT…! Bukannya opsi pertama itu memberatkan BPJS secara tidak perlu? Ataukah memang prosedurnya demikian? Entahlah, yang jelas dalam minggu ini mau komplen ke BPJS soal opsi yang aneh ini. Injeksi doang tanpa rawat inap juga menghemat duit BPJS. Saya pun tak suka rawat inap untuk urusan yang tidak emergency ini. Jelas opsi kedua menunjukkan tidak ada “emergency” atau keperluan untuk rawat inap. Jika pun harus rawat inap yo wess, rawat inap tapi tetap malem pulang ke rumah. Home Sweet Home lah… Apa enaknya nginep di Rumah Sakit.

Yo wess. Barangkali ada orang BPJS baca ini jadi aku ndak perlu mendatangi kantor BPJS buat komplem doank…

09 Oktober 2015:

Akhirnya jelas sudah dugaanku terbukti. Sebenarnya rawat inap adalah “akal2an” untuk mengakali rule BPJS. Karena biaya untuk rawat jalan setiap pasien terbatas dan RS tidak diijinkan untuk cost sharing dengan pasien rawat jalan. Seluruhnya harus menjadi tanggungan BPJS, beda dengan rawat inap yang memungkinkan cost sharing dengan pasien. Misalkan BPJS kelas ekonomi tapi kamar naek ke kelas satu maka selisihnya bisa ditanggung pasien. Hmmm… Lha piye iki.

Injeksi hydrocortisone biaya Rp 495ribu tidak mungkin ditanggung BPJS karena katanya budget rawat jalan cuman Rp 160ribu per kunjungan. Makanya musti diarahkan menjadi rawat inap agar biaya bisa ditanggung BPJS. Lha piye iki jal. Carpal Syndrome disuruh nginep 2 hari di RS mo ngapain coba… bete deh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s