Negara Duduk – Kita Berdiri

Pada suatu hari, ada kawan mengirimkan SMS2 bersemangatkan revolusi hingga seolah menurutku revolusi seharusnya direncanakan. Dan pada saat bersamaan membacai broadcast situasi-situasi kekecewaan terkait penanganan suatu masalah di sana. Yang nampaknya masih diperjuangkan menurut paradigma ‘mengharapkan negara untuk ini dan itu bukan dalam mekanisme negosiasi sejajar tetapi dalam posisi pihak yang mengharap. Sebagai pihak yang sedang lemah dan membutuhkan negara.’ Padahal negara lah yang jika ingin tetap tegak maka butuh menyelesaikan masalahnya. Memenuhi tugas konstitusionalnya “melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia”. Maka ku-SMS jawabanku:

SMS-ku: “Revolusi tidak bisa direncanakan, kita hanya bisa menabur benih dan memupuknya. Setiap kemenangan negosiasi sejajar adalah pupuknya. Maka kita harus menaikkan posisi tawar terhadap negara hingga berdiri sama tinggi. Revolusi adalah saat dimana kita berdiri dan negara duduk!”

SMS ini dijadikan sebuah status oleh seorang kawan lainnya. Mungkin kawan yang itu meneruskannya, maka kemudian ada sebuah SMS respon terkait sebagai berikut: “Menurut saya yang bodoh dan awam ini, revolusi adalah saat tatanan yang menindas dihancurkan oleh kekuatan revolusioner, apapun elemennya. Revolusi bukan saat kita berdiri dan negara duduk… Karena jika ini yang terjadi, maka itulah anarkisme absolut. Inilah ide Leo Tolstoy, dan ada satupun postulat kebenaran dan keadilan yang membenarkan ide negara yang lemah.”

Maka terpaksa-lah kujawab agar lebih jelas maksud dari pemikiranku tentang revolusi sebagai berikut: “Negara ‘lama’ duduk dan kaum revolusioner membangunkan yang baru sama sekali. Kaum revolusioner berdiri dan negara ‘lama’ duduk dipenggal lehernya. Bangunlah badannya jiwanya negara revolusioner yang tanpa kompromi menegakkan keadilan.”

“Negara ‘lama’ duduk dan kaum revolusioner berdiri tegak adalah suatu titik awal dan bukan akhir. Pemenggalan ‘negara’ lama adalah konsekuensi logis dari revolusi bahkan itulah titik awal kemenangan dan bukan akhir.”

“Revolusi hanya bisa dipupuk dengan upaya2 mendudukan negara ‘penindas’ di kursi pesakitan untuk kemudian menguburnya dalam sejarah. Revolusi hanya bisa dipupuk dengan membangunkan jiwa bangsa untuk berdiri melawan penindasan.”

GAK NYANGKA rek… aku bisa ngomong soal revolusi. Padahal selama ini aku diam saja soal ini. Aku hanya menyaksikan kejadian-kejadian dan meresapkannya serta memikirkan bagaimana seharusnya sehingga terlahirlah bentuk manifesto yang kemudian kukembangkan lagi menjadi suatu presentasi PPT. Dan pada suatu kesempatan mempresentasinya, tercetuslah gagasan membuatnya menjadi sebentuk Counter Legal Draft Konstitusi. Maka lahirlah yang telah terlahir sebagai suatu alternatif sistem bagaimana negara seharusnya dilaksanakan. Bagaimana demokrasi benar-benar mengembalikan kedaulatan di tangan rakyat dan bukan sekadar yang diasumsikan sebagai “suara rakyat”. Suara partai jelas bukan lagi representasi “suara rakyat”…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s