Jokowi, Foke, dan Partai Pemakan Tembelek & Ludah Muncrat

Pada 20 September 2012 nanti warga Jakarta akan menentukan pilihan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta 2012-2017. Pada putaran pertama Jokowi-Ahok mengungguli lima kandidat lainnya. Dua kubu lolos untuk bertarung di putaran kedua: Jokowi-Ahok dan Foke-Nara. Keduanya saat ini sengit bertarung merebut dukungan rakyat.

Sebelum lebaran kemarin, ketiga pasang cagub-cawagub yang keok di putaran pertama sudah mendeklarasikan dukungannya kepada Foke-Nara. Akhirnya Hidayat-Didik, Alex-Nono bekerja bahu membahu bersama Foke-Nara membendung Jokowi-Ahok yang didukung PDIP dan Partai Gerindra.

Sekadar mengingatkan Foke-Nara didukung Partai Demokrat, Partai Hanura, PAN, Partai Damai Sejahtera, PKB, Partai Bulan Bintang, Partai Matahari Bangsa, dan Partai Kasih Demokrasi Indonesia. Hidayat-Didik didukung PKS dan Alex-Nono disokong Partai Golkar, PPP. Semua partai-partai itu telah satu suara mendukung Foke-Nara. Dua pasang lainnya yang berasal dari calon independen: Faisal-Biem dan Hendardji-Reza tak secara tegas menyebut dukungannya.

Masih segar dalam ingatan kita bagaimana kelima pasang tersebut berkampanye di putaran pertama. Seperti sebuah koor, kelimanya secara serempak mengecam kepemimpinan gubernur incumbent, Foke. Seperti sebuah festival musik, dari enam panggung musik yang berdiri berjajar, lima panggung membawakan lagu yang sama: gubernur Foke tidak becus, tidak bisa memimpin Jakarta dan tak perlu diberi kesempatan berkuasa lagi untuk lima tahun yang akan datang.

Mari kita lihat pernyataan calon-calon yang tidak lolos ke putaran kedua.

Hidayat Nurwahid: “Yang namanya kemiskinan, kesejahteraan, kemacetan, banjir adalah komitmen serius. Bukan serius omongan saja, omong doang. Kita lihat langsung beberapa bagian kondisi Jakarta masih begitu rupa, mestinya hal semacam ini mesti selesai ketika kita punya gubernur yang ahlinya,” kata Hidayat saat mengunjungi Kali Krukut, Minggu (25/3/2012).

Hidayat juga menyindir Foke sebagai satu-satunya calon gubernur yang dilaporkan ke KPK karena kasus korupsi. “Jangan memilih calon yang terang-terangan dilaporkan ke KPK. Warga Jakarta harus sadar dengan korupsi pemimpinnya dan jangan lagi memilih pemimpin yang jelas terindikasi korupsi,”

Dan setelah tercecer dari balapan, Hidayat berkata: “Setelah kami melakukan komunikasi politik langsung baik dengan Pak Jokowi maupun dengan Pak Fauzi Bowo, hasilnya hanya Foke yang sanggup menjalankan pemerintahan yang bersih, bebas korupsi”. Sementara Presiden PKS, Luthfi Hasan menyebut pasangan Foke-Nara lebih sejalan dengan visi misi dan program yang diusung PKS

Alex Noerdin berkata: “Jadi bukan seperti dulu yang pernah berjanji tetapi tidak terpenuhi,” katanya saat memaparkan visi misinya di depan sidang paripurna DPRD DKI Jakarta, Minggu (24/6/2012).

Setelah tercecer dari arena lomba, Sekretaris DPD Partai Golkar DKI Jakarta Zaenuddin berkata: Jakarta membutuhkan pemimpin yang sudah teruji dan mengetahui seluk beluk ibu kota. Jakarta juga membutuhkan pembangunan kota yang berkesinambungan.

Bagaimana suara partai lain yang sebelumnya tak mendukung Foke dan kini menjadi pembelanya, silahkan di-googling sendiri.

Sandiwara Partai Pendukung Foke
Ketidakkonsistenan partai-partai dalam pilkada DKI Jakarta ini adalah bukti sebuah pendidikan politik yang tidak baik. Partai-partai terlalu pragmatis hingga melupakan ucapannya sendiri.

Lantaran kalah, partai pendukung Hidayat-Didik dan Alex-Nono alpa bahwa pernah mengkritik secara pedas, untuk tidak disebut menghujat Foke. Seluruh susunan kata-kata bernada sindiran ke Foke pada putaran pertama ternyata hanyalah sandiwara. Mereka seperti hilang ingatan atas ucapan-ucapan mereka sendiri.

Ludah yang telah dikeluarkan sekarang dijilat sendiri. Bahkan mengajak para pendukungnya menjilat ludah itu. Tahi yang telah dikeluarkan sekarang ramai-ramai ditelan lagi. Keringat dan daki yang telah keluar dari tubuh mereka, sekarang ramai-ramai dibersihkan sendiri.

Bagaimana pemimpin yang sebelumnya dilabeli gagal, dalam sekejap label itu dicopot dan diganti berhasil. Semua cap negatif, serta merta telah diganti menjadi cap positif. Semudah itukah mereka mengganti ludah menjadi madu dan tahi menjadi roti?

Aku bukan tim sukses, bukan pula suporter. Jurnalis tidak diperkenankan menjadi tim sukses. Jurnalis hanya melaporkan fakta berdasarkan news value.

Aku juga tidak sedang mengarahkan orang untuk memilih salah satu calon yang sedang bertarung. Aku hanya mengkritik secara vulgar, terbuka dan dengan bahasa keras bahwa sandiwara partai-partai itu tak lebih dari komedi putar yang tidak pantas untuk ditiru. Cukup diingat dalam memori.

Apa yang dipertontonkan partai yang kini mendukung Foke bisa disimpulkan adanya ketidakseragaman antara ucapan dan perbuatan.

Seluruh dokumen paparan visi misi lima calon gubernur adalah bantahan atas prestasi Foke selama lima tahun sebelumnya, seraya mereka menawarkan perubahan Jakarta. Dokumen itu sudah dilupakan dan digantikan kesepakatan baru dengan Foke. Dokumen itu tak lebih dari sebuah perjudian, peruntungan. Andai-andai bisa merebut dukungan rakyat maka kritikan itu akan terdengar lebih nyaring.

Rupanya partai itu menggunakan jurus: memukul untuk merangkul. Iseng-iseng berhadiah, syukur-syukur Foke tersungkur dan kursi bisa diatur. Sekarang mereka sudah akur dan melupakan janji-janji luhur.

Imbal balik apa yang membuat partai-partai yang dulu sudah meng-unfollow bahkan mem-blocked Foke berubah menjadi follower Foke? Terlalu sederhana menyebut ada politik dagang sapi.

Dukungan yang diperjualbelikan tak selamanya berkompensasi dengan uang, jabatan dan previlege. Imbalan bisa jadi dalam bentuk lain yang hanya partai-partai itu dan Foke yang tahu.

Tidak ada ideologi yang dibawa partai, partai hanya menawarkan pragmatisme demi mendulang suara. Partai-partai yang mengubah haluan dukungan itu pasti sedang bekerja keras menjelaskan kepada konstituen.

Sudah seharusnya konstituen kritis mempertanyakan perubahan itu, kecuali kalau konstituen itu hanyalah kambing congek yang siap dicokok sang tuan.

Partai-partai itu sebaiknya merekam semua ucapannya, memperdengarkan kembali agar tidak mengulangi kesalahan serupa dalam Pemilu 2014. Jangan mudah mengecam pemimpin lain.

Benarlah kata Nabi Muhammad SAW, hadits riwayat Tirmidzi: “Janganlah membenci musuhmu berlebih-lebihan, bisa jadi ia akan menjadi kekasihmu. Dan jangan mencintai kekasihmu berlebih-lebihan, bisa jadi ia akan menjadi musuhmu”. Benci dan cinta seharusnya sekedarnya saja. Supaya tak jadi blunder kelak di kemudian hari.

 

Copas dari: http://www.beritasatu.com/blog/nasional-internasional/1858-jokowi–foke–dan-partai-penggemar-ludah-dan-tahi.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s