Partai Tidak Bisa Diharapkan Lagi…!

parTAI harusnya disiram di toilet ae...

parTAI harusnya disiram di toilet ae…

Ketika Pesawat Sukhoi Superjet buatan Rusia akan meramaikan industri maskapai nasional, kita teringat dengan rencana Industri Pesawat Terbang Nasional. Pengamat penerbangan Dudi Sudibyo mempersoalkan pesawat pesawat asing yang menguasai langit Indonesia, seperti dikutip harian Kompas tanggal 25 Mei 2012 dan berujar ,” Cetak biru N-2130 mirip dengan Bombarder CRJ 1000, Embraer-190, atau Sukhoi Superjet 100″.

Ditengah maraknya industri maskapai, Bandara International Soekarno-Hatta diCengkareng, Banten, mencetak rekor tertinggi didunia pertumbuhan penumpang yakni 19,2 persen. Namun seperti dikeluhkan pengamat penerbangan Chappy Hakim, Indonesia hanya sebagai pasar. Kita mungkin berpikir seandainya dulu industri pesawat di dukung penuh maka Indonesia sekarang ini akan menjadi produsen pesawat bukan sekedar pasar dari Industri peasawat terbang dari nagara lain. Rupanya sejak lama para penentu kebijakan lebih menekankan berpikir instan dan kurang mengantisipasi masa depan. Memang modernisasi dan Industrialisasi yang diusung semasa Orde Baru membawa serta juga budaya Instan: Segera, urgen/mendesak dan minim persiapan.

Cara pikir instan lebih menekankan pada solusi segera, selalu kondisi urgent sehingga sering menimbulkan kepanikan, kurng memperhatikan jangka panjang dan mendalam. Berpikir instan berbeda dengan berpikir cepat dan tangkas. Berpikir cepat lebih punya landasan, sedang instan lebih merupakan letupan. Berpikir instan berbeda dengan berpikir kekinian, karena berpikir kekinian adalah usaha menjawab problem sekarang tanpa lepas dari kesinambungan masa depan, sedang berpikir instan menekankan ketergesaan, berharap semua berubah secara ‘magis’ tanpa usaha dan tanpa persiapan. Berpikir instan ini menjadikan lebih sering munculnya reaksi reaksi dibanding antisipasi. Berpikir instan ini menjadikan lebih sering munculnya emosi dibanding perenungan dan ketenangan.

Cara pikir instan sudah merambah dari cara makan sampai ke banyak bidang. Dibidang politik kita meyaksikan partai partai politik yang berpikir instan. Partai politik ingin cepat kekuasaan. Partai politik lebih senang merekrut para kader yang populer bukan yang berpikir mendalam. Salah satu hasilnya adalah banyaknya anggota DPR membuat pernyataan yang asal asalan. Dengan ketergesaan tersebut manjadikan pendanaan juga dicari dengan instan, dan korupsi menjadi pilihan. Hasilnyapun masih menyeret para politukus muda terjerembat ke kasus korupsi sampai sekarang. Padahal dengan reformasi, masyarakat melihat para politikus muda dengan penuh harapan. Ketika kekcewan terus disajikan oleh partai politik, bisa menjadikan masyarakat patah arang. Kondisi seperti ini kalau dipelihara akan mendorong masyarakat pada satu titik kesimpulan: PARTAI TIDAK BISA DIHARAPKAN.

Budaya keberagamaan kita juga banyak diisi oleh kiayi dan ulama instan. banyak munculnya kiayi dan ulama karbitan memberi petuah yang berbeda beda pada suatu masalah malah membuat bingung umat dari penyelasaiannya. Dari pelawak, penyanyi, usahawan menjadi ulama ikut meramaikan ceramah ceramah keagamaan. Tentu sah sahnya saja ketika bicara wacana wacana yang lebih pada budipekerti dan sesuai bidang, namun sering juga merambah pada aturan aturan. Tidak adanya jenjang dan kriteria jelas pada tingkat keulamaan, membuka peluang dan menjadi lahan subur tumbuhnya aliran pemikiran keagamaan literal tidak kontekstual, berpikir hitam putih tidak dialogis, berpikir “pemurnian” kepada orang lain daripada “penyucian jiwa” diri sendiri serta orientasi pada melulu ” gerakan fisik” dibanding perlunya juga “gerakan pemikiran dan perenungan”. Pola pikir instan yang ingin mengubah orang lain dengan segera mengesampingkan pembinaan, selalu berpikir urgen menghasikan kepanikan dan semua dianggap ancaman, serta lebih memilih menafsirkan harfiah kata dibanding pendalaman makna dibalik kekayaan kata. Inilah yang mendorong budaya SESAT MENYESATKAN.

Budaya instan juga masuk kekehidupan sehari hari kita. Dari cara konsumsi dan mecari kesenangan. Pencarian kesenangan secara instan ini pada gilirannya mendorong masyarakat ke kehidupan hedonis jauh dari kesederhanaan. tumbuh suburnya dunia hiburan yang hanya melampiaskan kepuasan sesaat tanpa sentuhan pendidikan. Muncullah kebebasan tak terikat dan ekspresi tanpa tanggung jawab. hasilnya, Hari hari ini kita dikagetkan fakta praktek aborsi terbuka untuk mewadahi kebebasan seks anak anak muda. Hari hari ini kita juga dikagetkan berita maraknya selundupan obat obat terlarang. Satu langkah pelumrahan kebebasan tak terikat nilai budaya bangsa akan membuka langkah berikutnya, yang pada gilirannya makin mejauh dari cita cita bangsa. Pembelokan inilah akan mengantar pada puncak kebebasan dan kesenagan instan dengan Narkoba. Inilah yang mendorong maraknya BARANG HARAM.

Masyarakat mencari solusi solusi permasalahan kehidupan dengan instan termasuk pada aspek pengobatan. Ini menumbuh suburkan praktek pengobatan alternative yang mengkampanyekan penyembuhan instan. Beralihnya masyarakat kepengobatan alternative bukan karena masalah kemiskinan, karena pemgobatan alternative butuh biaya mahal sehingga mereka mampu membayar iklan yang tayang baik di tv lokal maupun nasional. Pengobatan alternative dan herbal tentu sah sahnya saja bahkan merupakan kekayaan bangsa dengan banyaknya ragam tumbuhan yang ada di Indonesia. Namun pembiaran praktek pengobatan alternative dan herbal tanpa basis kesehatan yang resmi akan mendorong pada praktek PERDUKUNAN.

Reformasi telah membawa kebebasan berekspresi tapi belum mengubah pola pikir. Pola pikir instan tetap terpelihara dari zaman ORBA sampai sekarang sehingga belum menghasilkan pemimpin yang melihat kedepan, pemimpin visioner. Kasus Grasi Corby boleh jadi sebuah transaksi yang menguntungkan sesaat, namun meruntuhkan investasi tidak terbatas untuk jangka panjang, inilah hasil nalar instan, kata Acep Iwan Saidi di harian Kompas tanggal 30 Mei 2012, yang bernafsu memanen padi petang hari atas benih yang ditanam pagi hari. Reformasi belum menghasilkan penentu kebijakan dan pemerintahan yang fokus dan kerja keras di masa sekarang tanpa kehilangan rantai rancangan pembangunan yang berkesinambungan. Ini tercermin pada ganti menteri ganti kebijakan. Kita khawatir kata “percepatan” dalam pembangunan sebenarnya hanya sebuah “ketergesaan” tanpa persiapan.

Hasilnya, muncul kasus Hambalang, yang bukan saja dugaan adanya aroma korupsi namun juga masalah konstruksi. Kita khawatir kata VISI MISI dalam proposal proposal pemerintahan sebenarnya hanya sebuah formalitas dan slogan. Dipemerintahan kota dan kabupaten visi misi diterjemahkan pada motto yang asik hanya menjadi permainan kata kata : kota SANTRI ( Sehat, Aman, Nyaman, Tertib, Rapi, dan Indah), kota BERMARTABAT ( Bersih, Makmur, Taat, Bersahabat), dst. Kita khawatir kata kata “cita cita” yang sering dilontarkan sebenarnya adalah sekedar “angan angan”. Karena cita cita membawa kita kerja keras dan fokus pada masa sekarang untuk menggapainya dimasa depan, sedang angan angan hanya sekedar memberi kesan dan citra yang melalaikan karena yang akan diraih adalah mimpi mimpi saja tanpa tujuan jangka panjang.

Kita tidak menafikan kemajuan kemajuan yang sudah dicapai. Kita tidak menafikan banyaknya anak muda anak muda yang berprestasi. Kita tidak menafikan banyaknya ulama yang penuh toleransi. Kita tidak menafikan banyaknya pemberantasan korupsi. Kita tidak menafikan adanya pertumbuhan ekonomi. Kita tidak menafikan banyaknya rakyat bangkit berusaha mandiri. Sehingga tidak sepatutnya kita rendah diri. karena peluang demi peluang, kesempatan demi kesempatan terus menghampiri. Namun, kita khawatir bahwa kemajuan kemajuan yang dicapai terasa tidak terintegrasi. Masing masing maju dengan resultan sendiri sendiri tanpa dirigent orkestra yang rapi. Sehingga, kita khawatir terjadi pembelokan arah tujuan karena gejala berpikir instan telah membenih disegala bidang seperti diuaraikan diatas. Ketika terjadi pembiaran terus menerus akan mengarah ke pelumrahan dan pada gilirannya lama lama kelaman akan menjadi bagian yang dominan. Maka upaya perubahan dan pencegahan pembelokan sudah seharusnya sedini mungkin dipersiapkan melalui penegakan hukum saat ini serta proses pembinaan dan pendidikan jangka panjang.

Kita butuh reformasi yang menghasilkan pemimpin pemimpin yang punya visi sejati, ulama ulama yang punya kompentensi, para politikus yang berdedikasi, rakyat yang mandiri dan bangsa yang punya jati diri. Untuk menjadi bangsa yang adil makmur sejahtera dan ampunanNya. Selamat hari ulang tahun PANCASILA 1 Juni.

Wallahu A’lam. semoga dalam menulis ana juga tidak berpikir instan. makanya butuh masukan masukan.

Hasan Shahab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s